Kulihat ke sekeliling ruangan ini, kacau. Aku sampai tidak
mengerti dengan apa yang terjadi dengan kamar ini sebelumnya, kurasa ini
perbuatan yang disengaja. Lihat saja pintu itu, dulu kokoh menghias kamar ini. Sekarang,
terbelah duadengan sisi yang lain berserakan di lantai. Entah bagaimana caranya
pintu itu dapat terbelah dua, mungkin kapak diatas meja itu pelakunya.
Kamar ini benar-benar berantakan , penuh cipratan merah
didinding putihnya. Dilantai banyak berserakan puing-puing kaca yang juga
kecipratan warna merah. Jendela disebrang kamar terbuka, menghembuskan angin
dingin yang menusuk tulang dan meniupkan horden yang Salah satu bagiannya lepas
dan beberapa cetakan tangan berwarna merah menghiasi bagian horden yang lepas
tersebut. Lemari di sudut kanan kamar pun tak luput dari kekacauan ini. Isinya berhamburan
ke luar menutupi lantai tepat didepan lemari. Beberapa bekas sepatu bertanah
mengotori pakaian di lantai. Sebuah meja rias menyita perhatianku. Cerminnya pecah,
semua laci menjulur keluar, alat rias bertebaran disamping meja. Bukan, bukan
itu yang menyita perhatianku, tapi sebuah kotak berwarna silver-maroon yang berada diatas meja. Kuhampiri kotak itu, dan
benar saja kotak itu dibongkar paksa oleh seseorang. Gemboknya patah dan ada
bekas benda tajam di sisi engselnya. Kotak itu terbelah dua, setengah bagian
yang lain terlihat berada di depan lemari pakaian. Kotak itu kosong, dan kemungkinan
sebelumnya terdapat sebuah benda, entah apa itu aku pun tak tahu. Sembari mencoba
menerka-nerka benda di kotak itu, aku pun kembali melihat-lihat ruangan ini.
Tepat di sisi kiri kamar tersebut, ada sebuah tempat tidur.
tempat tidur yang besar dan megah dengan ukiran bunga Matahari menghiasi
pinggiran kayu penopangnya. Empat tiang yang kokoh dengan tiga kain kelambu
menutupi sekeliling tempat tidur. Dengan rasa pensaran, ku tarik salah satu
kelambu putih itu, sekedar cari tahu. Ternyata hanya ada dua buah bantal dengan
bekas tancapan benda tajam tepat ditengah bagian bantal. Cipratan merah yang
sama juga melumuri salah satu bantal dan sisi kiri tempat tidur itu. Rasa pensaran
kembali menghampiri, sepertinya ada sesuatu dibalik selimut itu. Tampak gundukan
besar berada dibalik selimut yang juga berwarna putih, dengan corak merah yang
lagi-lagi sama dengan merah yang ada disekeliling ruangan. Tanpa piker panjang
aku pun meraih selimut itu dan segera menariknya. Gerak tanganku seketika
terhenti. Ada sesuatu mencengkram kaki kiriku yang berada tepat disamping
kolong tempat tidur.
Cengkraman dikaki kiriku semakin kencang, ditambah angin
kencang yang berhembus dari jendela, membuatku semakin takut dan ingin segera
meninggalkan tempat aneh ini. Ku urungkan niat untuk membuka selimut itu. Cengkraman
yang sebelumnya sangat kuat akhirnya melemah. Ku tarik kakiku sekuat tenaga,
hingga ku terjatuh diatas serpihan kaca. Sepertinya aku terluka, terlihat dari
bercecernya darah di jalan saat aku kembali pulang.
Sudah seminggu ini aku tak bisa tidur. Kenangan mengerikan
itu menghantui setiap malamku. Keputusan ku pun sudah bulat, aku akan kembali
kesana. Aku ingin tahu siapa yang mencengkram kaki kiri ku, dan apa maksud dari
semua ini.
Esoknya aku kembali ke tempat mengerikan itu. Ku masuki
kamar yang kusebut sudut merah ini. Kulangkahkan kaki cepat sampai ke samping
tempat tidur. Langit terlihat sangat cerah tak seperti saat lalu, setidaknya
mengurangi sedikit ketakutanku. Setelah mengumpulkan keberanian beberapa saat,
ku tarik sehelai kelambu yang berada tepat didepan ku. Masih sama. Semuanya tak
ada yang berubah seperti saat aku datang kemari beberapa saat lalu. Dengan
cepat kuraih selimut putih itu, dan saat itu juga kaki kiriku dilanda
cengkraman yang hebat. Sakit dan sedikit menusuk, lebih kuat dari yang kemarin.
Keringatku mulai bercucuran, tak ada semenit aku dicengkramnya. Badan ku lemas,
ku jatuhkan badanku tepat disamping kolong. Terlihat sebuah mata sayu di bawah
sana. Siapa dia? Sedang apa dia disana? Semua pertanyaan menggelayuti pikiran
ku.
Aku terbangun. Sial! Aku jatuh di serpihan kaca lagi, dan
kali ini telapak tangan ku yang terluka. Aku pun mencoba bangkit sampai sebuah
tangan membantuku berdiri. Seorang wanita cantik berdiri dihadapanku, membantuku
berdiri dan membersihkan serpihan kaca ditelapak tanganku. Aku sama sekali tak
mengenal wanita ini, sepertinya ia sebaya denganku. Matanya sayu sekali, dan
sepertinya ia sangat ketakutan. Ku ajaknya ia ke rumahku, aku tak tega
meninggalkannya sendiri disini.
Sesampainya di rumah aku langsung membersihkan luka ku
dengan air dan membalutnya dengan kain untuk sementara waktu. Ia duduk terdiam
di ruang tamuku, tak banyak bicara dan terlihat layaknya orang yang sangat
trauma. Hal itu membuatku tak berani mengajaknya berbicara lagi, dia butuh
waktu pikirku.
Aku kira ia anak yang pendiam, ternyata salah. Ia anak yang
baik dan sangat menyenangkan. Namanya Nina. Orangtuaku mengizinkan ia tinggal
disini untuk menemaniku ketika oragtuaku keluar kota. Namun ketika orangtuaku
ingin menyekolahkannya di sekolah yang sama denganku, ia menolak. Tanpa alas an
yang jelas ia sangat menolak keras untuk sekolah.
Selama aku sekolah, Nina sering membantu membersihkan
rumahku. Aku tidak memiliki pembantu, sejak kejadian dua tahun lalu ketika
pembantu dirumahku dengan nekad merampok rumah keluargaku dan beberapa
tetanggaku. Dan dia juga membunuh kakak lelakiku satu-satunya. Hal itu membuat
orangtuaku terpukul dan tidak ingin memiliki pembantu lagi. Jadi, setiap pagi
aku dan orangtuaku saling membantu membersihkan rumah. Namun ketika mereka ada
tugas keluar kota, tugas rumah menjadi tanggungjawabku sepenuhnya. Hal itu
bukan hal yang sulit bagiku, ditambah sekarang ada Nina yang mau membantuku
membersihkan rumah, tugasku jadi tidak terlalu berat.
Sudah dua bulan Nina tinggal dirumahku. Selama itu lah aku
merahasiakan asal mula Nina. Dan selama itu pula, aku memendam pertanyaan
tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Sampai suatu hari, aku tak bisa memendam
rasa pensaranku lagi. Kutanyakan saja semua padanya. Namun apa yang kudapat? Dia
langsung berlari ke kamar tanpa menghiraukanku. Aku merasa sangat bersalah kepadanya.
Aku pun menyusulnya ke kamar. Nina tak mau membukakan pintunya untukku.
Aku benar-benar menyesal telah menanyakan itu padanya. Setelah
membereskan rumah dan mengunci pintu, aku kembali ke kamar untuk istirahat. Berharap
semoga esok Nina mau memaafkanku.
Salah. Aku salah. Nina tak mau memaafkanku. Pagi buta, aku
terbangun dan Nina tepat dihadapanku. Semula mukanya tersenyum manis padaku. Sampai
pada saat ia mengeluarkan kapak dari balik punggungnya. Wajahnya terlihat
sangat marah. Aku berlari menjauh darinya. Nina berlari dibelakang mengejarku. Aku
sangat ketakutan hingga kesulitan membuka pintu rumah. Aku berlari keluar
rumah, dan aku bingung harus meminta bantuan kepada siapa. Orangtuaku sedang
keluar kota, dan aku tak mungkin meminta bantuan tetanggaku. Ini pagi buta,
mereka pasti sedang tidur. Dan kakiku terus melangkah ke sebuah rumah,
memasukinya dan sampai pada suatu tempat. Sudut merah lah tempat ku berada
sekarang. Dengan kasar kutarik selimut putih itu, kuharap suatu keajaiban terjadi
nantinya.
Aku tak sanggup melihat semua ini. Ternyata kakak ku lah
yang berada dibalik selimut itu. Dengan badan yang telah membusuk dan bau yang
sangat menyengat membuatku teringat akan suatu hal. Nina adalah pembantu gila
yang bekerja dirumahku, dan sudut merah ini adalah kamar tidurku dua tahun
lalu. Nina yang telah membunuh kakak ku. Dia juga ingin membunuhku. Dengan napas
tersenggal-senggal aku mencoba bersembunyi dibawah kolong tempat tidur saat
Nina sedang asyik memotong-motong kakak ku.
Tamat













